Laksanakan Instruksi Jaksa Agung; Kejari Jakbar Dominasi Penerapan Restoratif Justice
Foto :

Jakarta, HanTer - Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Barat mendominasi pelaksanaan azas Keadilan Restoratif atau Restoratif Justice (RJ), setelah Jaksa Agung Burhanuddin mengeluarkan instruksi supaya dilakukan penggentian penuntutan perkara jika memungkinkan.

Instruksi itu tertuang dalam Peraturan Jaksa Agung (Perja) Nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian perkara secara damai melalui azas Keadilan Restoratif atau Restoratif Justice (RJ).

"Sejak Perja itu, sudah dua perkara pidana umum yang kami hentikan penuntutannya. Prosesnya tentu sesuai aturan yang ada," ujar Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jakarta Barat Dwi Agus Arfianto
di Jakarta, kemarin.

Pantaun Harian Terbit, Kejari Jakarta Barat hingga saat ini masih mendominasi perapan asas Restoratif Justice (RJ), sebaliknya kejaksaan negeri (Kejari) lainnya  satu perkara bahkan ada yang masih nihil. 

Evaluasi penerapan RJ ini kabarnya akan menjadi salah satu materi Rakernas Kejaksaan RI yang akan diselenggarakan pada Desember mendatang. 

Dwi Agus Arfianto menjelaskan perkara yang dihentikan itu adalah kasus penganiayaan (Pasal 351 KUHP) atas nama tersangka Burhan alias Kete Bin Saba. Kasus berawal ketersingungan pelaku terhadap sikap Hari Afianto (korban) yang memicu emosi tersangka kemudian menganiaya korban hingga mengalami luka. Kedua pihak masih bersaudara.

Keputusan Penghentian Penuntutan Perakara (SKP2) berdasarkan Keadilan Restoratif dikeluarkan setelah  adanya perdamaian dan saling memaafkan antara tersangka dan korban, serta permohonan maaf dari istri tersangka. Pertimbagan lain tersangka sebagai tulang punggung keluarganya dan adanya hubungan keluarga antara tersangka dan korban.

"Pada dasarnya adanya kesepakatan damai antara korban dan tersangka, dituangkan dalam surat pernyataan damai dan disaksikan tokoh masyarakat setempat," ujar Kasipidum Kejari Jakbar Hernando Ariawan, menambahkan.

Setelah terjadi perdamaian berdasarkan Perja nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, perkara pidana atas nama Tersangka Burhan Alias Kete Bin Saba dinyatakan ditutup demi hukum dan tidak dilanjutkan ke tahap persidangan.

Perkara lainnya adalah perkara pencurian (Pasal 362 KUHP) atas nama tersangka Hendra Yohanis alias Acang,

Peristiwa perkara ini berawal pada hari Jumat 10 September 2021, saat saksi korban Robby Wijaya mendatangi Optik Candys beralamat di Jalan Kebayoran Lama No 50 RT 002/003 Kelurahan Sukabumi Utara, Kebun Jeruk, Jakarta Barat untuk menemui temannya Andy Budianto.

Saat keduanya berkomunikasi, saksi korban Robby Wijaya meletakkan telepon genggamnya di atas meja komputer pemeriksaan mata. Sejam kemudian, Robby Wijaya menuju bengkel sepeda motor daerah Kebon Jeruk dan telepon genggamnya tertinggal di meja komputer pemeriksaan mata tersebut.

Saat itulah, tersangka Hendra Yohanes Alias Acang melihat telepon genggam tersebut dan mengambilnya. Sayangnya, aksi pencurian tersangka Hendra Yohanis alias Acang diketahui Robby melalui CCTV yang ada di oprik tersebut.

Setelah berhasil diamankan, alasan tersangka Hendra Yohanes Alias Acang mengambil telepon genggam milik saksi korban karena keadaan ekonomi dan tulang punggung keluarga.

Keputusan penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif atau Restoratif Justice (RJ) diberikan karena adanya perdamaian. Korban Robby Wijaya memaafkan tersangka Hendra Yohanis alias Acang dengan alasan kemanusiaan serta permohonan maaf dari tersangka dan ibu tersangka, sehingga saksi korban tidak mempermasalahkan lagi telepon genggam miliknya untuk dikembalikan.