Dari Festival Tari Anjungan Sumut TMII, Tari Serampang Dua Belas, Ikon Nasional yang Tak Lagi Terlupakan
Foto : Tim Juri Festival Tari Serampang Dua Belas 2021, dari kiri ke kanan, Dra Ertis Yulia Manikam, Retno Ayumi, dan DR Dilinar Adlin.

Siapa bilang Tari Serampang Dua Belas punah dan terlupakan? Kalau yang bilang demikian, tentu karena mereka tidak tahu perkembangan seni tari yang menjadi ikon nasional tersebut di era kekinian. 

Buktinya, di berbagai forum seperti acara pernikahan dan forum-forum resmi, tarian yang di dalamnya terdapat makna dan filosofi yang mendalam tentang tata cara pergaulan muda-mudi dalam budaya Melayu ini sering ditampilkan. Juga berbagai kegiatan lomba dan festival sering dilakukan.

Tak hanya itu pada Festival Tari Serampang Dua Belas se-Nusantara Tahun 2021 yang diselenggarakan anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 12-13 Nopember 2021, muda-mudi yang mengikuti acara tersebut sangat antusias.

Jumlah peserta festival yang awalnya diinisasi mantan kepala anjungan Sumut TMII Tatan Danial itu, juga cukup banyak. Diinformasikan, jika tidak dibatasi karena pandemi Covid-19, jumlah peserta dari seluruh Indonesia yang ikut lomba akan lebih banyak lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Tampil sebagai juri pada festival ini budayawan Melayu, Retno Ayumi, akademisi dan praktisi Tari yang juga Dosen Universitas Negeri Medan, DR Dilinar Adlin dan Ir Dra Ertis Yulia Manikam, instruktur tari, musik, vocal, dan kosultan seni pertunjukan.

Plt Kepala Anjungan Sumut TMII, Siswanto, S. Sos,. M. Si tampak hadir dan memberi sambutan pada acara ini.

DR Dilinar Adlin mengaku gembira dengan semakin besarnya minat generasi muda mengenal dan mau mempelajari seni melayu terutama Serampang Dua Belas.

“Saya optimis ke depannya tarian melayu semakin banyak generasi muda meminati dan mendalami tarian melayu. Sehingga tarian Serampang Dua Belas menjadi kebanggaan nasional dan tampil di mancanegara seperti sebelumnya,” papar Dilinar yang sudah puluhan tahun mendalami dan mempelajari budaya dan seni melayu. 

Namun, lanjut Dili, sapaan akrab Dilinar, meminta pemerintah pusat dan daerah juga dapat lebih memperhatikan Tarian ini agar tidak punah. “Semua pihak harus bekerjasama untuk menjaga agar tarian Serampang Dua Belas dan tarian melayu lainnya tetap eksis,” kara Dili kepada Harian Terbit usai ia menjadi juri dalam festival tersebut.

Makna Filosofi

Sementara itu,  Retno Ayumi mengatakan,  tari Serampang Dua Belas bukan hanya sekadar tarian, di dalamnya terdapat makna dan filosofi yang mendalam tentang tata cara pergaulan muda-mudi dalam budaya Melayu.

“Ada cara dan ada tata tertib pada tarian Serampang Dua Belas, bahwasannya pertemuan-pertemuan muda-mudi itu melalui tahapan-tahapan tertentu, dan tidak langsung bertemu. Di dalam tarian ini ada petunjuk ajar yang luar biasa pada tradisi kita soal pergaulan,” kata Retno kepada Harian Terbit usai ia menjadi juri dalam Festival Tari Serampang Dua Belas se-Nusantara Tahun 2021.

Retno berharap pelestarian Tari Serampang Dua Belas sebagai ikon tari nasional terus dilakukan. Dengan demikian tarian ini kembali diperhitungkan di kancah seni tari dunia. 

“Digelarnya festival tari ini setiap tahun oleh anjungan TMII Sumut diharapkan bisa menghidupkan dan mengembangkan Tarian Serampang Dua Belas. Sehingga generasi muda mengetahui kebudayaan kita yaitu Tari Serampang Dua Belas yang telah di akui oleh Dunia,” ujarnya.

Para Pemenang

Pada festival ini jenis yang dilombakan Serangkai: Lenggang Patah Sembilan, Mak Inang Pulau Kampai, dan Serampang 12.

Tim juri berhasil menetapkan pemenang, yakni. Untuk kategori Mudi Mudi, juara I LK Tamora 88 Kab Deli Serdang, juara II LK Cipta Pesona Deli Serdang, juara III LK Cahaya Permata Kabupaten Deli Serdang, harapan I LK Matra Etnika Jakarta, harapan II Serindit, dan harapan III LK Yusda Kabupaten Batubara. Pavorit: Tradisional Etnik Culture.

Kategori Muda-Mudi, juara I, Cipta Pesona Deli Serdang, juara II Tamora 88 Kabupaten Deli Serdang, Juara III Sanggar Tari Nindi Kota Medan, harapan I Bunga Tanjung Kabupaten Deli Serdang, harapan II Kabupaten Deli Serdang (NPP 070), Harapan III Matra Etnika Jakarta. Favorit: Bunga Tanjung Kabupaten Deli Serdang.

Era Soekarno

Presiden Sukarno pernah mengundang kelompok tari asal Medan untuk menampilkan tari Serampang Dua Belas di Istana Negara. Kecintaan Sukarno pada tarian muda-mudi Melayu ini juga diperlihatkan dengan menjadikannya sebagai bagian dari diplomasi budaya, yang kerap dibawa dan dipentaskan di banyak negara. Tak hanya itu, bahkan Sukarno pernah menjadikan tarian Serampang Dua Belas sebagai tarian nasional dan menjadi bahan ajar wajib di seluruh sekolah di Indonesia.

Senada dengan itu, Tatan Daniel seniman dan mantan Ketua Anjungan Sumatera Utara TMII mengatakan, bagi masyarakat Melayu tarian ini telah menjadi ikon, bahkan perkembangannya meluas hingga Malaysia, Singapura, dan Thailand. 

“Kalau kita menyaksikan film 3 Dara yang hitam putih, di situ ada adegan muda-mudi Jakarta mengadakan acara, dan di situ muda-mudi menarikan Serampang Dua Belas lengkap dengan pakaian teluk belanga. Itu artinya apa? Dahulu tarian ini menjadi sesuatu yang khas dalam pergaulan muda-mudi,” kata Tatan.

Tarian Serampang Dua Belas, salah satu dari delapan koreografi termashur karya Sauti. Diramu dari berbagai ragam gerak dan musik Spanyol, Portugis, Persia, dan sebagainya, berbasis khazanah adat, seni budaya, dan prikehidupan keseharian masyarakat Melayu pada masanya, di kawasan Deli dan Serdang. Dipentaskan pertama kali di Medan, pada tahun 1938.